“Di Balik Ore Dan Bisik Mesin: Ada Sunyi Yang Tak Terdengar, Ada Mental Yang Perlu Dijaga”

“Di Balik Ore Dan Bisik Mesin: Ada Sunyi Yang Tak Terdengar, Ada Mental Yang Perlu Dijaga”

Oleh: dr Fauzul Azhim MKK / Praktisi Kesehatan Kerja

Di dunia tambang, kita fasih berbicara tentang tonase ore, jenis alat berat, dan produktivitas harian. Namun ada satu hal yang jarang disebut dalam meeting produksi atau laporan evaluasi mingguan: kesehatan mental pekerja.

Di balik ore yang terangkat dan deru mesin yang terus berputar, ada jiwa-jiwa yang bekerja dalam sunyi. Mereka adalah para pekerja tambang yang berdiri di bawah panas, angin, dan tekanan target. Jauh dari rumah, dekat dengan risiko. Seringkali, tubuh mereka terlihat tegar, namun isi kepala tak pernah diberi ruang untuk istirahat.

Kita bisa mengukur kekerasan batu, kekuatan baja, dan kapasitas alat berat, Tapi bagaimana mengukur letihnya hati? Bagaimana menakar stres yang disembunyikan di balik helm dan seragam? Kesehatan mental bukan isu sampingan. Ia adalah sumber daya tak tertulis yang menopang keselamatan, produktivitas, dan keberlangsungan tim. Seorang pekerja yang raganya masih bisa mengangkat ore, tapi jiwanya sudah letih adalah risiko nyata yang tak bisa diabaikan. Saat tekanan psikis dibiarkan mengendap, ia tak hanya merusak semangat, tapi juga bisa mengganggu fokus, meningkatkan kecelakaan kerja, bahkan memicu keinginan untuk mengundurkan diri dalam diam.

Sebagai dokter perusahaan yang mendampingi para pekerja di lapangan, saya percaya bahwa tambang yang baik bukan hanya soal hasil produksi yang melampaui terget, tetapi tentang bagaimana perusahaan dan manajemen menjaga manusia-manusianya tetap utuh. Pekerja bukan sekadar roda industry mereka adalah ayah, anak, suami, dan sahabat. Di antara lembur dan rotasi shift, mereka tetap menyimpan rindu yang tak pernah tertulis dalam laporan kerja.

Menjaga kesehatan mental bukan hanya tugas personal atau tim medis. Ini adalah tanggung jawab kolektif yang dimulai dari kesadaran manajemen hingga dukungan antarpekerja di lapangan. Manajemen memiliki peran strategis: membangun sistem kerja yang adil, jam kerja yang manusiawi, serta menciptakan ruang komunikasi yang terbuka dan empatik. Leadership bukan hanya soal memberi target, tapi juga tentang menumbuhkan lingkungan kerja yang aman secara psikis,  tempat di mana pekerja bisa menyampaikan kelelahan tanpa takut dianggap lemah.

Di sisi lain, rekan kerja adalah barisan pertama penjaga mental satu sama lain. Terkadang, sebuah sapaan ringan, candaan sederhana, atau sekadar menemani makan malam di pojok pojok mess barak bisa menjadi penyelamat di tengah tekanan. Dalam budaya tambang yang keras, kita butuh ruang lembut: ruang untuk saling mendengar tanpa menghakimi, ruang untuk bertanya “apa kabarmu hari ini?” dengan sungguh-sungguh. Tak perlu menjadi psikolog untuk peduli. Cukup hadir sebagai manusia yang memanusiakan manusia lain.

Kita perlu menegaskan bahwa kesehatan mental bukan soal lemah atau kuat, tetapi soal bagaimana manusia mengelola tekanan hidup dalam keseimbangan. Memberikan akses pada konseling, pelatihan manajemen stres, serta komunikasi dua arah antara pekerja dan atasan, adalah bentuk intervensi yang bisa diterapkan hari ini juga tanpa menunggu krisis terjadi.

Jangan biarkan produktivitas tumbuh di atas kelelahan batin. Industri yang maju adalah industri yang berani mengakui bahwa manusia bukan hanya aset, tapi inti dari keberlanjutan. Memastikan kesehatan mental pekerja adalah bentuk investasi sosial, etis, dan ekonomis yang tak ternilai harganya.

Komitmen manajemen terhadap kesejahteraan mental dan fisik pekerja mencerminkan nilai luhur bahwa manusia adalah aset paling berharga, bukan hanya sebagai tenaga kerja, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar perusahaan. Dalam kultur pertambangan yang penuh tantangan, pendekatan yang menempatkan pekerja sebagai prioritas utama bukanlah kelembutan, melainkan keberanian untuk membangun industri yang tahan lama dan beretika. Ketika manajemen benar-benar hadir, mendengar, dan bertindak, maka rasa memiliki tumbuh, loyalitas terbentuk, dan semangat kerja menjelma menjadi kekuatan kolektif.

Maka, kepada seluruh insan tambang baik di balik kemudi, di ruang kendali, hingga yang berjaga di malam hari, tetaplah kuat, tapi jangan abaikan jiwamu. Mari saling menjaga, saling menyapa, dan saling menopang. Karena tidak ada tambang yang benar-benar kuat jika manusia di dalamnya sedang rapuh. Dan tak ada ‘ore’ yang lebih mulia dari pikiran yang tetap jernih dan hati yang tetap hidup.

Karena sejatinya, tambang bukan sekadar ladang Batubara atau nikel, ia adalah ruang sunyi tempat banyak harapan digantungkan, dan banyak beban dipikul diam-diam. Maka jagalah mereka yang menggali dengan hati. Beri ruang untuk lelah yang tak tampak, beri suara untuk sunyi yang tertahan. Sebab ketika kita memilih untuk peduli, sesungguhnya kita sedang menggali sesuatu yang lebih berharga dari mineral: Yaitu kemanusiaan.

Sebagai seorang dokter perusahaan, saya meyakini bahwa tubuh manusia bukan sekadar mesin produksi, melainkan ciptaan yang utuh, tempat raga, pikiran, dan perasaan saling bertaut erat, Jika jantung adalah pusat kehidupan biologis, maka pikiran adalah pusat arah dan semangatnya. Menjaga mental berarti menjaga kompas hidup seseorang agar tetap menyala. Dan dalam dunia tambang yang penuh tekanan dan keterbatasan, pendekatan medis tak cukup hanya dengan obat, tetapi juga dengan empati, dengan mendengar, dengan hadir secara manusiawi.

“Di Balik Ore Dan Bisik Mesin: Ada Sunyi Yang Tak Terdengar, Ada Mental Yang Perlu Dijaga”

Oleh: dr Fauzul Azhim MKK / Praktisi Kesehatan Kerja

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *