Tulisan Dokter Adi : Nakes Positif Covid-19, Kegagalan Promotif Preventif?

  • Whatsapp

Nakes Positif Covid-19, Kegagalan Promotif Preventif?

Oleh : Ahmad Hadiwijaya (Relawan Covid-19)

Covid-19 rapid test yang positif pada hampir ratusan tenaga kesehatan di puskesmas adalah suatu sinyal kegagalan promotif dan preventif kita ditingkat dasar.

Bacaan Lainnya

Dalam penanggulangan covid-19 semua sepakat bahwa promotif dan preventif adalah hal yang sangat penting dan memiliki peran yang sangat menentukan.

Mengapa ratusan nakes positif rapid dianggap sebagai indikator kegagalan promotif preventif kita?

Promotif dan preventif adalah upaya memberikan pemahaman yang mendalam sampai kepada usaha aktif untuk melakukan pencegahan.

Dalam konteks covid-19, upaya promotif dan preventif ini dianggap berhasil jika paling sedikit 80% masyarakat diwilayah kerja puskesmas paham akan definisi, penyebab dan semua hal yang terkait sampai kepada pemahaman akan pentingnya pencegahan penularan bahkan sampai pada bagaimana cara untuk mencegah penularan. Bukan hanya sampai disitu, mereka harus dapat melakukan secara aktif bahkan mampu mengedukasi lingkungan sekitarnya untuk dapat melakukan hal yang sama.

Ketidakjujuran masyarakat dalam memberikan keterangan kepada tenaga medis juga adalah bukti kegagalan promotif dan preventif kita. Ketidakjujuran masyarakat lebih banyak berangkat dari kekurangpahaman akan penyakit ini, yakin ketidakjujuran sebagian masyarakat ini tidak berangkat dari niat jahat untuk menyebarkan virus.

Tulisan ini bukan bermaksud melimpahkan kesalahan kepada petugas medis atau instansi terkait promotif dan preventif, tapi lebih jauh menjadi otokritik dan sebuah muhasabah diri untuk kemudian menentukan derap langkah selanjutnya.

Kegagalan promotif dan preventif kita harus menjadi langkah awal untuk mundur sejenak membenahi sistem promotif dan preventif kita ditingkat puskesmas, bangkit dan berbenah.

Tenaga kesehatan yang covid 19 rapid test nya positif harus mendapat perhatian lebih, dukungan isolasi mandiri yang maksimal, dukungan psikologi, perhatian terhadap keluarga mereka sampai kepada prosedur medis selanjutnya yang harus mereka jalani dilakukan dan dilayani layaknya pasien VVIP. Mereka adalah garda terdepan yang masih diharapkan kiprahnya.

Sambil melakukan hal tersebut, puskesmas harus segera dibangkitkan lagi, disegarkan dan difungsikan dengan tenaga kesehatan yang tersisa. Mempersenjatai mereka dengan APD yang lengkap dan terstandar, mendidik ulang masyarakat (baca:memaksa) dengan dukungan lintas sektor agar kita semua dapat menyamakan derap langkah melawan musuh yang kuat dan tak terlihat ini.

Kegagalan promotif preventif kita harus menjadi titik awal pemikiran bahwa tahap selanjutnya harus lebih diperkuat. Kuratif rehabilitatif, ya kuratif dan rehabilitatif tidak boleh lemah dan didukung sepenuhnya.

Mengevaluasi dan mempertegas sistem skrining sebelum masuk RS, sistem transport pasien, ruang isolasi yang harus mencukupi dan terstandar adalah harga mati. Tenaga kesehatan, terlebih mereka yang berada di ruang isolasi harus dipantau dan sekali lagi, perhatian penuh harus dilakukan oleh mereka yang bertanggungjawab.

Petugas medis di isolasi adalah makhluk berharga saat ini, adakah diantara pejabat diluar sana yang rela meninggalkan keluarga mereka paling tidak sebulan lamanya untuk mengurus orang lain dengan nyawa sebagai taruhannya? , jika tidak ada maka mari kita dukung mereka, perhatikan mereka. Dukungan APD dan kelengkapan lain yang terstandar harus menjadi prioritas.

Keempat titik ini; promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif diperkuat secara maksimal. Genderang perang telah di tabuh, pantang seorang kesatria untuk mundur dan panglima yang hebat akan paham apa yang dibutuhkan prajuritnya.

Semoga Allah melindungi kita semua, dan wabah ini cepat berlalu.

(Sebuah otokritik membangun langkah baru)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *