TULISAN DOKTER ADI : JALAN PANJANG CORONA

  • Whatsapp

JALAN PANJANG CORONA
Ahmad Hadiwijaya/ Relawan Covid-19

Media menulis, Indonesia gagal menangani Covid-19. Hari ke hari Corona makin mengganas. Angka kematian tercatat paling tinggi se Asia Tenggara. Angka kematian tenaga kesehatannya juga demikian.

Tenaga Kesehatan akhirnya seperti ditinggalkan dalam medan perang tak berujung. Pengasuh negeri ini makin kehilangan “sense of crisis” dalam makna yang benar. Gebrakan pengendalian berbasis medis tak terlihat, kebijakan berjalan tanpa kontrol, ekonomi menjadi kiblat dan data hanya menjadi santapan media tak berarti.

Mereka yang diharapkan memberi contoh malah memperlihatkan aksi yang jauh dari teladan. Wajarlah jika masyarakat makin jauh dari kedisiplanan protokol pencegahan Covid-19. Akhirnya hoax seolah menjadi fakta dan tenaga kesehatan makin menjadi bulan-bulanan walaupun deretan korban justru berasal dari mereka. Logika tak lagi diperhitungkan, hujatan makin mencekam.

Tenaga kesehatan akhirnya harus berhadapan dengan banyak musuh. Corona adalah musuh utama. Penggemar hoax, pengagum konspirasi, dan pendewa ekonomi sebagai sekutunya.

Ajakan lockdown di awal perang tak dipandang, kebijakan-kebijakan terlontar tak searah. Sekolah dan pesantren mendapat lampu hijau untuk dibuka ditengah teriakan IDAI yang membeberkan fakta korban dan kematian anak akibat Covid-19. Rumah ibadah dibuka tanpa kontrol, keramaian dilepas tanpa sanksi, dan perkantoran terbuka lebar. Akhirnya klaster-klaster baru bermunculan dari sana.

Bersamaan dengan itu, ruang-ruang isolasi dipenuhi antrian, peralatan medis makin terbatas, Covid-19 dengan gejala yang berat makin banyak. Ini karena masyarakat tak lagi mengindahkan protokol pencegahan Covid-19 dan komorbid yang tak terkontrol.

Diluar itu testing tak maksimal, jauh dibawah target yang telah ditetapkan. Pertimbangan biaya lebih banyak didahulukan, akhirnya mereka yang positif banyak berkeliaran dan menjadi spreader yang menyeramkan.

Keadaaan ini akan terus berkepanjangan jika kita tak segera sadar, menunggu kita atau kerabat menjadi korban sudah sangat terlambat. Air mata akan menjadi penyesalan dan nyawa tetap tak akan terganti.

Tetaplah dalam protokol pencegahan Covid-19, Pakai masker kemanapun, jaga jarak, dan sesering mungkin cuci tangan dengan sabun memakai air mengalir.

Semoga kita semua dalam lindungan Allah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *