RESEPSI PANDEMI, RESESI EKONOMI DAN PESTA DEMOKRASI

  • Whatsapp

JAPIKnews.com – KALTIM – Dalam beberapa bulan, pandemi telah memakan korban setidaknya 6 pejabat daerah,117 dokter (masih terus bertambah), demikian juga ratusan nakes lain dan 9.222 rakyat meninggal dunia, masih kurang kah ini

Hari ini 7 orang sejawat kami dokter di Tanah Grogot, Kabupaten Paser Kaltim antri untuk masuk ruang isolasi, mereka adalah dokter umum yang sementara dalam proses internship, mereka adalah garda terdepan pelayanan kesehatan,mengikut itu dua puskesmas harus tutup.

Korban dari kalangan dokter dan nakes sudah cukup menjadi alasan buat mereka yang berakal bahwa corona ini bisa masuk pada semua kalangan, bahkan dikalangan mereka yang paham akan karakter virus dan strategi untuk menghindarinya terlebih kalo hanya sekedar bermodal “sok tahu” akan virus, berbangga ketika bisa berbicara konspirasi tapi tak paham bukti ilmiah dan diperkuat dengan sikap “keras kepala”. Tinggal tunggu giliran saja.

Hari ini,rekor baru kasus konfirmasi, 4000 an orang. Memang hal ini karena pemeriksaan dibeberapa daerah yang makin masif (dan ini harus) tapi juga menunjukkan angka positivity rate yang jauh diatas normal sekitar 19% dan artinya menunjukan angka penularan yang cepat yang dapat berakhir pada rubuhnya sistem pelayanan kesehatan, dan ini sudah mulai terjadi.

Jumlah pasien di beberapa RS sudah tidak berimbang dengan jumlah ruang isolasi yang tersedia, nakes makin berjatuhan, dan yang bertugas sudah kelelahan disertai dengan frustasi melihat kondisi yang tidak kunjung membaik.

Bersamaan dengan itu, pengampu negara ini masih berbicara tentang perbaikan ekonomi, mengatasi resesi ekonomi, strategi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pemulihan ekonomi dan hal lainnya yang menyangkut ekonomi.

Bukankah kondisi ekonomi saat ini adalah imbas dari pandemi yang kian memburuk. Selesaikan saja dulu masalah ini dan bicaralah ekonomi setelahnya.

Angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia saat ini sudah melebihi angka rata-rata dunia, sudah saatnya semua introspeksi.

Virus sudah jelas, mekanisme penularan sudah pahan, dan cara pencegahan semua juga sudah hafal tapi yang tidak patuh masih juga banyak.

Penguatan di pencegahan disertai 3T (Testing, Tracing/Tracking, dan Treatment) harus dimasifkan.Edukasi kepada masyarakat harus betul-betul dilakukan dan dievaluasi. Peraturan-peraturan yang dibuat harus diberlakukan secara konsisten, dan jangan hanya menjadi pelengkap pencitraan para pegawai gugus tugas.

Kebijakan-kebijakan harusnya memihak pada pencegahan penularan Covid-19. Termasuk PILKADA, jika dalam analisa epidemiologi akan menjadi episentrum baru penularan Covid-19 sebaiknya ditunda saja.

Selain ekonomi berhentilah juga berpikir politik, kita masih dalam resepsi pandemi.Tetaplah dalam protokol pencegahan Covid-19, jaga jarak hindari kerumunan, sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan pakailah masker standar kemanapun.

Semoga wabah ini cepat berlalu, dan kita semua dalam lindungan Allah.

Ahmad Hadiwijaya (Relawan Covid-19)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *