Pernyataan Kepala BBLK Makassar Dokter Aswan Usman Hasil Pemeriksaan Swab Pasien PDP Covid 19 Menuai Polemik

  • Whatsapp

Japiknews.com – Makassar – Terkait polemik akhir akhir ini di kota makassar adanya pasien PDP yang meninggal dan hasil Swab yang belum keluar dimana TGC makassar akan melakukan pemakaman jenazah sesuai protap Covid 10 menuai kritik dan keluarga korban melakukan tindakan pengambilan paksa jenazah keluarga

Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel swab pasien PDP Covid-19 dianggap lama baru bisa diketahui hasilnya dan sering berbuah masalah.

Bacaan Lainnya

Terkait hal ini, dr. Aswan Usman, M.Kes, Kepala Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Makassar mengatakan pada awak media japiknews

“Lamanya dimana? Kalau sampel masuk di atas jam 2 siang, baru dikerjakan besok,” jawabnya saat ditanya mengapa hasil swab tes lama baru bisa diketahui.

Dia menjelaskan, jika sampel swab masuk ke laboratorium BBLK sebelum tengah hari, maka hasilnya bisa diperoleh paling lambat pada sore harinya.

“Sistem kami, dari pagi sampai jam 2 siang itu kerja ekstraksi. Kita ada 4 orang yang urus ekstraksi. Setiap orang mendapatkan 24 sampel, jadi total ada 96 sampel per sekali running,” ungkapnya.

Setiap hari, BBLK Makassar rata-rata melakukan 5-6 kali running. Sehingga jumlah sampel swab yang diselesaikan bisa mencapai 500-an.

“Paling minimal kami lakukan 4 kali running atau sekitar 376 sampel, tergantung jumlah sampel yang masuk per hari,” tambah Ketua Harian Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Sulawesi Selatan

Aswan meyakini, masalah telatnya hasil pemeriksaan swab yang kini ramai diperbincangkan, bukan berada pada pihaknya.

Kami di sini paling lambat selesaikan pemeriksaan sampel itu 2 hari. Itu paling maksimal, tapi rata-rata sehari selesai asal tidak ada kendala,” tegasnya.

“Permasalahan yang saya lihat, rata-rata sampel dikumpul dulu oleh pihak rumah sakit baru dikirim ke kami,” tambah dia.

Padahal kalau mau cepat, lanjut Aswan, sampel bisa saja segera dikirim ke laboratorium tanpa harus menunggu terkumpul banyak dulu, apalagi untuk sampel yang diprioritaskan.

“Masyarakat berpikir lama pemeriksaan itu sudah dihitung sejak pengambilan sampel swab oleh petugas di rumah sakit. Padahal seharusnya dihitung sejak sampel tersebut masuk di laboratorium,” bebernya.

Aswan berharap, kordinasi dan komunikasi antara para stakeholder yang menangani Covid-19 ditingkatkan lagi.

“Kita perkuat saja kordinasi. Tidak ada salahnya hubungi kami, sampaikan bahwa ada sampel yang butuh diperiksa cepat. Semua bisa dikomunikasikan,” tutupnya.

Untuk diketahui, BBLK Makassar adalah salah satu laboratorium rujukan Covid-19 dengan kapasitas terbesar untuk wilayah Indonesia Timur, meliputi Sulawesi, Maluku dan Papua.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *