Pergeseran Nilai Siri’ na Pacce’ Dalam Pengendalian Covid-19

  • Whatsapp

Pergeseran nilai siri’ na pacce’ dalam pengendalian covid-19 
(Ahmad Hadiwijaya, Relawan Covid-19)

Siri’ na pacce adalah slogan budaya yang dikenal dikalangan masyarakat Bugis-Makassar. Seorang Bugis-Makassar berani mempertahankan hidup di ujung badik jika menyangkut hal ini, Siri’ na Pacce.

Siri’ berarti rasa malu (harga diri) sedangkan Pacce dalam bahasa Bugis Pesse yang berarti pedih atau pedas (keras, kokoh pendirian). Jadi Pacce adalah kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau kesusahan orang lain (wikipedia).

Konon karena budaya siri’ na pacce yang dipegang oleh suku Bugis-Makassar ini menjadi alasan mereka bisa hidup dan bertahan diperantauan bahkan jauh sebelumnya, budaya ini menjadi pegangan seorang saudagar dan pelaut Bugis-Makassar diluar sana disamping nilai agama yang berusaha digigit dengan gerahamnya.

Makassar khususnya dan Sulawesi-Selatan umumnya menjadi salah satu penyumbang terbesar penderita Covid-19 di Indonesia.

Dalam konteks penanggulangan covid-19 penulis melihat sedikit pergeseran budaya siri’ na pacce didalamnya.

Jamak kita saksikan di media, masyarakat Sulawesi Selatan yang sulit mengikuti tahapan pencegahan penularan covid-19, sehinngga muncul memek lucu polisi India yang angkat tangan karena ditugaskan di Makassar.

Seorang bugis-makassar yang memegang prinsip Siri’ na Pacce harusnya memiliki Siri’ (harga diri) yang dia pegang teguh sehingga karena harga diri ini dia merasa harus mentaati anjuran pemerintah (parentana pammarentata’)

Parentana pammarentata’ kamma kamma anne mengharuskan untuk dirumah saja (diballa’ta ngasengmaki/ribolata’ manengni’), cuci tangan dengan sabun (bissai limanta ammake sabung/nisabungi limanta), dan memakai masker (nipakei maskerta).

Mentaati pemerintah dalam budaya bugis-makassar adalah budaya yang sudah terbangun sejak masa kerajaan Gowa-Tallo dan seluruh kerajaan di Sulawesi-Selatan karena dalam pandangan bugis-makassar, pemangku jabatan adalah wakil Tuhan di bumi yang harus diikuti titahnya. Bukankah dalam ajaran agama juga demikian?

Budaya Siri’ tak terlihat disini, begitu gampang terlihat ketidaktaatan terhadap anjuran pemerintah dan tenaga medis. Lihatlah dipantai losari ketika pagi hari, masyarakat masih berkumpul, tak menghiraukan social distancing bahkan tidak memakai masker.

Seorang bugis-makassar yang memegang prinsip Siri’ na Pacce harusnya memiliki Sikap Pacce
yang berarti pedih atau pedas (keras, kokoh pendirian) dan empati untuk turut merasakan kepedihan atau kesusahan orang lain.

Sikap Pacce ini harusnya membawa seorang bugis-makassar menjadi pribadi dengan pendirian yang kokoh bahwa dia lebih baik mati di ujung badik daripada mati karena infeksi corona. Sikap ini akan membawanya ke arah tindakan positif dalam pencegahan penularan virus ini.

Sikap pacce ini juga seharusnya mengantar seorang bugis-makassar memiliki empati yang tinggi sehingga dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi beban saudaranya bahkan selalu menjadi sebab keringanan beban saudaranya. Sehingga pantang seorang yang memegang teguh sikap Pacce untuk menjadi penyebab penyakit dilingkungannya bahkan akan sangat senang membantu agar tidak terjadi penularan dilingkungannya.

Empati yang tinggi sebagai aplikasi prinsip Pacce ini akan mengantar seorang Bugis-Makasaar untuk peduli dengan lingkungan sekitar sehingga tidak akan kita jumpai tetangga yang kesulitan makan akibat dampak covid-19.

Bukankah budaya pacce ini juga kita tidak jumpai saat ini? Kurang kokohnya pemahaman masyarakat akan pentingnya mencegah penularan dilingkungannya masih sangat jelas terlihat.
Banyaknya masyarakat yang berdampak secara ekonomi ditengah masyarakat lain yang berkecukupan juga masih menunjukkan bahwa empati itu belum ada.

Sebagai seorang bugis-makassar marilah kita kembali memegang prinsip Siri’ na Pacce dalam penanggulangan Covid-19.

Marilah kita bersama dalam ikatan Padaidi, Padaelo, Sipatuo, Sipatokkong(sehidup-semati) dalam melawan Covid-19 ini, Ewako/Rewako !!!
Dan tetap dalam doa karena
Resopa temmangingi namalomo naletei pammase dewata” artinya: Kerja keras dengan penuh keikhlasan dan tak lupa berdoa agar tujuan kita dapat tercapai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *