Pandemi, Solidaritas Perkuat Imunitas

  • Whatsapp

Pandemi, Solidaritas Perkuat Imunitas
Oleh : Prof. Abdurrachman

Michael Levitt, ahli biofisika dan pemenang Nobel asal Stanford, memprediksi akan ada peredaan wabah Corona dalam waktu tak terlalu lama (LA Times, 23 Maret 2020).
Setelah memenuhi akurasi kuat di dalam memprediksi penurunan wabah Covid di China, Levitt mengungkapkan. “Tidak mungkin pandemi akan terjadi berbulan-bulan, terlebih sampai memakan jutaan korban. Jangan panik, kita akan baik-baik saja”

Bacaan Lainnya

Di samping Levitt, peneliti Melbourne telah memetakan respons imun dari pasien Covid-19 pertama di Australia, menunjukkan kemampuan tubuh untuk melawan virus dan pulih dari infeksi.

Prof Katherine Kedzierska, kepala laboratorium di Doherty Institute dan seorang peneliti imunologi influenza terkemuka di dunia. Dia bersama para peneliti lain dapat menguji sampel darah pada empat titik waktu berbeda pada seorang wanita sehat berusia 40-an, positif COVID-19 dan memiliki gejala ringan hingga sedang yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Dipublikasikan di Nature Medicine, laporan terperinci tentang bagaimana sistem kekebalan pasien merespons virus. Salah satu peneliti mengatakan ini adalah pertama kalinya tanggapan kekebalan yang luas terhadap Covid-19 telah dilaporkan (17/3).

“Kami melihat luasnya respon imun pada pasien ini menggunakan pengetahuan yang telah kami bangun selama bertahun-tahun. Kami melihat respon imun pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan influenza,” kata Dr. Nguyen.

“Tiga hari setelah pasien dirawat, kami melihat populasi besar dari beberapa sel imun. Sinyal ini sering merupakan pertanda pemulihan selama infeksi influenza musiman. Jadi kami memperkirakan bahwa pasien akan pulih dalam tiga hari, itulah yang terjadi!”

Sistem imun terdiri dari banyak struktur dan proses biologis yang melindungi individu terhadap bahan penginfeksi, infektan. Agar berfungsi dengan baik, sistem imun harus mendeteksi beragam infektan. Mulai dari virus, bakteri, jamur hingga cacing serta parasit lainnya.

Manusia memiliki sistem imun yang sangat canggih. Sistem yang mempunyai kemampuan beradaptasi dari waktu ke waktu untuk mengenali infektan, termasuk virus covid secara lebih efisien. Kekebalan adaptif (didapat) menciptakan memori imunologis setelah respons awal terhadap infektan spesifik, yang mengarah pada peningkatan respons pada pertemuan berikutnya dengan infektan yang sama. Proses kekebalan yang didapat ini, kalau terjadi pada kelompok masyarakat disebut herd immunity, kekebalan bersama. Kalau infektan memang sengaja dimasukkan, dalam dosis aman, dikenal sebagai vaksinasi.

Covid dapat berevolusi dan beradaptasi dengan cepat, dengan demikian menghindari deteksi dan netralisasi oleh sistem imun. Ini menyulitkan ilmuan membuat obatnya. Untuk itu, obat utama yang paling diandalkan adalah imun tubuh. Jika imun tubuh optimal, infektan dapat dikalahkan dengan mudah.
Terimakasih pandemi, yang telah memberikan stimulasi para ilmuan menemukan metode yang lebih mumpuni.

Untuk memperkuat imunitas melalui solidaritas, mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Wuhan, mengirim email bercerita. “Di Wuhan, kami sangat cepat untuk bangkit (recovery), karena kami saling menyemangati. Kami tidak memberitakan berita kematian, yang kami beritakan adalah berita kehidupan dan berita kesembuhan. Namun kenapa netizen di Indonesia lebih memilih memberitakan berita ketakutan? Apakah mereka memang ingin membunuh saudaranya sendiri?”

Bisakah mulai saat ini kita hanya memberitakan berita yang penuh harapan, berita yang menenangkan, berita kehidupan.

Bisakah kita membantu tim medis yang sudah sedemikian lelah, untuk berhenti membuat postingan-postingan yang berkonten menakut-nakuti membuat orang khawatir dan panik. Bisakah?

Tahukah bahwa kekhawatiran berlebih akan menurunkan imun tubuh lebih cepat. Jangan membuat mereka khawatir, sehingga terus menerus berbondong-bondong ke rumah sakit dan semakin membuat lelah para tim medis kita.”

Kualitas imun tubuh terbagi menjadi sepasang, kuat dan rentan. Orang yang memiliki imunitas kuat bercirikan karakter positif, antara lain memiliki optimisme yang tinggi dan gemar mendahulukan orang lain, solidaritas. Sikap optimis adalah sikap mengarah kepada solusi setiap persoalan. Sebaliknya orang yang memiliki imun yang rentan, memiliki sikap pesimis, suka panik, menghimpun berita-berita negatif, dan memiliki sikap egoisme yang tinggi.

Terbentang luas contoh solidaritas akibat pandemi ini. Mulai dari kedermawanan miliuner China, pendiri raksasa e-commerce Alibaba Group Jack Ma. Ia menyumbang berjuta alat medis dan masker. Jack Ma menyumbang Amerika, Negara-negara Eropa, Jepang dan juga 4 negara kawasan Asia Tenggara. Yakni, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Pesepak bola kenamaan asal Portugal Cristiano Ronaldo, mengubah hotel mewah yang dimilikinya, Pestana CR7 menjadi rumah sakit bagi pasien yang positif Covid-19. Dia juga menggratiskan perawatan mereka dan akan menggaji tenaga medis yang bekerja di sana.
Tercatat juga nama artis asal Korea, Lee Min Hi dan Hyun Bin, di Hollywood, Tom Hanks dan istrinya. Juga si donator dunia yang selalu siaga, yang punya Microsoft Bill Gates, juga Mark Zuckerberg.
Soal solidaritas dalam bentuk kedermawanan. Indonesia menempati 10 besar dunia. Terbukti Charities Aid Foundation (CAF) 10th World Giving Index memasukkan Indonesia dalam daftar 10 negara paling dermawan di antara 144 negara di dunia. Hayo tingkatkan solidaritas kepada sesama, kita semua bisa!

Terhadap peran solidaritas yang dapat melesatkan imunitas peneliti Amerika Serikat menemukan bukti yang mengguncang. Bernie S. Siegel, ahli bedah asli Amerika ini sampai pada kesimpulan bahwa kekuatan cinta dan kasih sayang, merupakan puncak sikap solidaritas. Solidaritas kuat mampu mengobati penyakit keganasan, carcinoma, kanker ganas. Bahkan, solidaritas yang kuat menggiring pasien-pasien HIV-AIDS sembuh sempurna tampa bekas.

Imunitas setiap individu kuat dapat membuat herd immunity bertambah hebat. Herd immunity, menjadi andalan memadamkan Covid-19. Imunitas kuat bisa menghemat biaya penanggulangan, di samping karakter masyarakat menjadi lebih berkualitas.
Pandemi Covid-19 mengajarkan kepada seluruh penduduk bumi, bersolidaritas tinggi supaya mampu menghadapi!

Sumber : Media Indonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *