NEW NORMAL VS PURA-PURA NORMAL

  • Whatsapp
NEW NORMAL VS PURA-PURA NORMAL

NEW NORMAL VS PURA-PURA NORMAL

Oleh: dr. H. Arianto S. Panambang
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Buol

CNN Indonesia-Selasa, 26 Mei 2020 merilis, Indonesia akan masuk ke Era New Normal atau Kelaziman Baru dalma kehidupan sehari-hari, sebab Indonesia harus tetap produktif di tengah wabah pandemi Covid-19. The New Normal : Tatanan Baru untuk beradaptasi dengan Covid-19.

Tidak lama beredar postingan Buol masuk nomor urut 25 dalam persiapan memasuki new normal, pertanyaan yang pertama terlintas, “Sudah siapkan Buol memasuki tatanan hidup baru dengan segala konsekuensinya?”. Spontan saya menjawab TIDAK.

Mohon maaf, bayangan awal saya tentang New Normal adalah bahwa hadirnya masa dimana kita kembali bisa beraktifitas seperti semula sama seperti sebelum pandemi terjadi. Bisa saling berkunjung, salaman, sholat berjamaah tanpa masker dan social distancing, sehingga apa yang di katakan New Normal malah menjadi Pura Pura Normal (PPN).

Dugaan saya ternyata salah besar, kita kembali menjalani kehidupan normal dengan wajib ‘memaksa diri’ tuk akrab dan patuh dengan seperangkat protokol kesehatan, ada kehidupan normal kembali berjalan dengan perilaku sosial yang berbeda, ada perubahan dalam pola baru dalam tindakan dan berperilaku masyarakat : pakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan, rajin cuci tangan, jangan jabatan tangan, dll.

Tapi kemudian saya berfikir lagi, bisa jadi MUNGKIN, karena saat ini Buol sementara menjalani PSBB Tahap II hingga tanggal 10 Juni 2020. Walau sesungguhnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Buol belum membahas hal ini karena lagi full konsentrasi mengawal yang di jalani saat ini.

Jika melihat kembali 3 indikator implementasi New Normal yang di tetapkan WHO : Pertama Indikator Epidemiologis, Kedua Indikator Surveillance dan Ketiga Indikator Sistem Kesehatan. Maka sepertinya Buol masih jauh panggang dari pada api.

Indikator Epidemiologis mempersyaratkan adanya penurunan jumlah kasus terkonfirmasi (+) selama 2 pekan terakhir (kurang dari 50%), penurunan jumlah kasus meninggal dari kasus positif, penurunan jumlah kasus positif yang di rawat di RS dan Kenaikan jumlah sembuh dari kasus yang terkonfirmasi (+). Insya Allah untuk indikator ini, Buol bisa lolos.

Indikator Surveillance Kesehatan Masyarakat mempersyaratkan jumlah pemeriksaan specimen meningkat dalam 2 pekan terakhir, positif rate kurang dari 5% (dari seluruh sampel yang positif hanya 5%), penurunan mobilitas penduduk dan Pelaksanaan Contact Tracking dari setiap kasus yg terkonfirmasi positif. Bagaimana Buol, saya yakin belum optimal.

Indikator Kesiapan Layanan Kesehatan Masyarakat mempersyaratkan ketersediaan ruang isolasi untuk setiap kasus di RS, jumlah APD terpenuhi untuk seluruh tenaga kesehatan di RS dan ketersediaan / kecukupan ventilator di RS. Semua ada dan tersedia, hanya saja jumlah masih sangat minimalis.

Dengan penjelasan di atas saya mencoba membuka semua data perkembanangan penanganan Covid-19 di Sulawesi Tengah, termasuk presentasi Ketua IDI Sulawesi Tengah dalam Webinar tadi sore, sekilas ingin saya sampaikan, Sulawesi Tengah secara umum belum siap untuk menerapkan New Normal, termasuk yang di Rekomendasikan dari Pemerintah Pusat terhadap 3 kabupaten, yakni Donggala, Touna dan Balut.

Masih perlu analisa lebih mendalam terhadap indikator indikator di atas termasuk 3 kabupaten yang di rekomendasikan, khususnya terkait Pemeriksaan Specimen. Angka pemeriksaan masih sangat rendah dan tidak menggambarkan kondisi sesungguhnya dari wilayah yang tersebut di atas.

Belum lagi paparan kurva yang tidak menggambarkan kondisi riil harian, mengingat lambatnya hasil pemeriksaan Swab PCR. Kondisi yang di laporkan hari ini, sesungguhnya adalah kondisi riil empat atau lima hari yang lalu, bukan hari ini. Saya teringat pernah dalam satu waktu dilaporkan landainya kurva terkonfirmasi positif, setelah dilakukan kajian mendalam, ternyata sepekan tidak ada pemeriksaan PCR akibat tidak adanya reagen.

Bila pelaksanaan New Normal terus di paksakan penerapannya, maka jaminan protokoler kesehatan dipastikan betul sudah di fahami dan dilaksanakan oleh keumuman masyarakat kita. Ketersediaan APD standar wajib dipenuhi, penambahan jumlah APD, tenaga kesehatan dengan mempertimbangkan beban kerja dan pembiayaan perlu di tuntaskan dengan riil terlebih dahulu. Karena jika tidak, maka mari bersiap menghadapi Badai Gelombang Kedua Pandemi.

Mengakhiri tulisan ini, ada benarnya filosofi kelahiran kita : kepala dulu kemudian kaki, sederhana tapi ada pelajaran besar dan berharga disana, seakan kita diajarkan untuk berfikir dahulu sebelum melangkah.

Wallaahu a’lam bish showab.
Buol, Senin Dinihari, 08/06/2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *