Ketum Inspira Cabang Jakpustara, Oloan Gani Nilai Langkah Strategis Bareskrim Polri Tepat Dalam Menginvestigasi Dugaan Kasus Kartel Minyak Goreng

Oloan Gani.

JAKARTA, JAPIKNEWS.COM – Dalam sepekan terakhir, minyak goreng menjadi barang langka dan sulit untuk didapati disejumlah pasar, toko, ataupun pedagang eceran (ritel). Persoalan ini membuat minyak goreng begitu diburu oleh masyarakat hingga membuat antrian panjang dibeberapa supermarket ataupun minimarket.

Adapun daerah-daerah yang mengalami kelangkaan minyak goreng ini antara lain Sumatera Utara, Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Serang. Akan tetapi, persoalan kelangkaan ini juga mulai dirasakan oleh masyarakat DKI Jakarta pada umumnya. Menurut “Olan begitu sapaan Ketua Umum Inspira Jakpustara”Kelangkaan minyak goreng menjadi lebih parah karena disebabkan adanya penimbunan yang dilakukan oleh beberapa oknum (pelaku usaha).

Dukungan Inspira Jakarta Pusat-Utara terhadap Bareskrim Polri

Berbagai media baik cetak maupun online, telah banyak meliputi berbagai masalah penimbunan minyak goreng yang sengaja dilakukan demi mendapatkan keuntungan ekonomi yang berlimpah. Tentu sebagai penegak hukum yang fokus pada isu-isu kriminologi, Bareskrim (Badan Reserse Kriminal) telah mengambil langkah strategis untuk mengatasi persoalan kasus kartel minyak goreng yang terjadi akhir-akhir ini dengan menemukan berbagai penimbunan dan kartel minyak goreng dibeberapa pasar ataupun tempat-tempat tertentu “tutur Olan”.

Kelangkaan minyak goreng yang sedang dialami masyarakat Indonesia pada saat ini, bisa jadi disebabkan karena ada upaya mendominasi pasar demi monopoli keuntungan sehingga oknum-oknum ini membentuk sebuah aliansi atau kelompok produsen independen yang bertujuan untuk menetapkan harga, misalkan seperti minyak goreng untuk membatasi suplai dan kompetitor.

Tentu hal ini menyebabkan ketimpangan dan kelangkaan minyak goreng yang akan semakin larut. Lebih lanjut Olan menilai Ini tidak terlepas dari persaingan usaha diantara perusahaan-perusahaan semakin sengit dan tajam. Kondisi demikian menuntut perusahaan untuk selalu berupaya mengembangkan strateginya agar dapat terus mempertahankan eksistensinya.

Namun demikian,banyak diantara pengusaha kerap kali menggunakan jalan pintas (short cut) dalam menerapkan strategi yang digunakan untuk melakukan persengkokolan (collusion) dalam bentuk suatu perjanjian yang memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang berdampak sangat merugikan konsumen karena tidak ada lagi kebebasan hak untuk memilih dan konsumen hanya memenuhi kewajibannya saja yaitu membayar senilai harga yang telah ditentukan, ini semua tentu menempatkan konsumen dalam hal ini masyarakat luas pada posisi tidak adil.
Keberadaan sindikat kartel untuk meraup keuntungan semata dengan mengabaikan kepentingan masyarakat.

Dugaan kasus kartel ini kemudian diperkuat dengan adanya temuan penimbunan 1,1 juta kilogram (Kg) minyak goreng di sebuah gudang di Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Menyikapi hal tersebut, Tim dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) dari Bareskrim Polri langsung turun untuk menginvestigasi kasus ini.

Hal tersebut dapat dilihat melalui pernyataan dari Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Whisnu Hermawan saat dimintai konfirmasi, Sabtu (19/2). Pada pernyataan tersebut ia mengungkapkan bahwa “Tim dari Dittipideksus Bareskrim akan mendalami ke Sumut,”.

“Berdasarkan fenomena tersebut, Ketua umum inisiator perjuangan ide rakyat (INSPIRA) cabang Jakarta Pusat-Utara Oloan Gani menilai langkah strategis yang dilakukan Bareskrim tidak terlepas dari Kepemimpinan “Komjen Agus Andrianto selaku Kabareskrim Mabes Polri” yang menurut saya sejak Komjen Agus Andrianto dilantik Februari 2021 Bareskrim Polri sudah banyak mengungkap dan menyelesaikan kasus-kasus besar dengan langkah-langkah strategis yang prediktif dan responsibilitas, hal ini sangat sejalan dengan slogan Presisi Polri,” pungkasnya.

Untuk itu saya mendukukung dan mengapresiasi langkah strategis dan sikap responsive dinilai tepat dilakukan Bareskrim dalam mengusut tuntas kasus dugaan kartel minyak goreng yang telah meresahkan masyarakat dan menyebabkan kegagalan pada pasar yang dilakukan oleh para pelaku usaha. Persoalan ini harus segera diatasi, demi mencegah terjadinya kasus-kasus baru yang dihasilkan dari kelangkaan minyak goreng yang akan merugikan berbagai pihak.

Oleh sebab itu selain menyerahkan dugaan kasus ini pada pihak Bareskrim, seluruh elemen juga perlu berkontribusi dan saling berkolaborasi dalam upaya untuk mengatasi kasus kartel, penimbunan, dan berbagai isu lainnya yang membuat minyak goreng menjadi langkah sehingga kita semua dapat keluar dari keresahan bersama ini,” tutup Olan. (Dede/Zaki)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.