Kehadiran Vaksin Menurut Psikologi Klinis Berdampak Sikap Masyarakat Berbeda Beda

  • Whatsapp

Jakarta, JAPIKNEWS.COM — Presiden joko widodo telah mengumumkan bahwa vaksin covid 19 buatan Sinovac tiba di Indonesia pada Minggu (6/12) kemarin.

“Saya ingin menyampaikan satu kabar baik bahwa hari ini pemerintah sudah menerima 1,2 juta vaksin Covid-19. Vaksin ini buatan Sinovac, yang kita uji klinis di Bandung sejak Agustus 2020,” kata Jokowi.

Kehadiran vaksin membuat Jokowi optimistis penularan Covid-19 bisa dicegah. Sebagian masyarakat pun menyambut baik kabar ini.

Sementara itu, Kasandra Putranto, psikolog klinis dan forensik, melihat kehadiran vaksin memang membawa dampak di masyarakat. Menurut dia, sikap masyarakat berbeda-beda, tergantung dari profil psikologisnya.

“Dengan dan tanpa kehadiran vaksin, sikap dan perilaku masyarakat bisa berbeda karena perbedaan profil psikologis yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan sosial,” ungkap Kasandra kepada awak media

Sebagaimana dilansir sosialgence,kecerdasan intelektual (intelligent quotient) mencakup kualitas seperti keterampilan analitis, penalaran logis, kemampuan menghubungkan beberapa hal dan kemampuan untuk menyimpan juga mengambil informasi.

Kemudian kecerdasan emosional (emotional quotient) adalah kompetensi yang berhubungan dengan kesadaran diri yang. Di antaranya meliputi, kesadaran emosional, penilaian dan kepercayaan diri, pengaturan diri, motivasi diri, kesadaran sosial, serta keterampilan sosial.

Sedangkan kecerdasan sosial adalah bentuk luas dari kecerdasan emosional. Orang yang memiliki kecerdasan sosial berarti orang yang bisa simpati dengan emosi orang lain dan mampu membaca tingkah lakunya, sehingga bisa memilih respons paling efektif.

“Dari tiga kecerdasan ini, masyarakat akan memiliki perbedaan dalam kapasitas pengendalian emosi dan dorongan impulsifnya,” papar Kasandra.

Di samping itu, Kasandra menilai bahwa secara umum, kehadiran vaksin dapat membuat masyarakat terbelah. Ada yang cuek dan ada pula yang optimistis dengan pencegahan penularan Covid-19.

Mereka yang cuek dan tidak paham, lanjutnya, cenderung akan mudah diarahkan pada tindakan-tindakan yang melawan prosedur. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka bisa terlibat dalam provokasi dan mempengaruhi orang lain.

Dia kemudian menganjurkan agar pihak berwenang menggencarkan edukasi dan pengendalian hoaks di masa seperti ini.

“(Masyarakat) akan terbelah. Yang cuek akan menerima akibatnya. Ini masalah edukasi dan pengendalian hoaks juga,” katanya.

Hingga saat ini, belum diketahui data keamanan dan efikasi (kemanjuran) dari uji klinis tahap ketiga Vaksin Sinovac. Hal ini berbeda dari Pfizer yang telah mengeluarkan data efikasi yaitu 90 persen efektif, dan Moderna dengan klaim tingkat efektifitas hingga 94,5 persen.

Di Indonesia, uji klinis Vaksin Sinovac bekerja sama dengan Bio Farma dan Universitas Padjajaran baru tuntas pada Mei 2021 dan laporan awal pada Januari 2021.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *