Kehabisan Obat, Pasien di Puskesmas Mandalle Memilih Keluar Paksa dan Pindah ke Klinik

  • Whatsapp
Kehabisan Obat, Pasien di Puskesmas Mandalle Pilih Keluar Paksa dan Pindah ke Klinik

JAPIKNEWS.COM – PANGKEP: Pelayanan kesehatan di Puskesmas Mandalle kembali menuai sorotan. Seorang warga Mandalle, M Syaiful telah dua kali merasakan kekecewaan atas pelayanan kesehatan di Puskesmas tersebut.

Anaknya yang masih berusia tiga tahun, kembali mengalami sakit muntah-muntah hingga lemas tak mendapatkan perawatan maksimal. Petugas Puskesmas saat itu tidak memberikan obat sesuai keluhan pasien, melainkan memberikan vitamin dan cairan infus.

Alhasil, Syaiful memilih mengeluarkan anaknya dari puskesmas Mandalle, dan merujuknya ke klinik kesehatan yang ada di Kecamatan Pangkajene. Kejadian Berulang yang dialami Syaiful ini terjadi, Kamis lalu, 1 Juli 2021.

Kepada wartawan, Sayiful yang merupakan ASN di Pemda Pangkep mengatakan, anaknya yang masih balita tersebut mengalami muntah dan demam sejak Rabu malam. Pengalaman sebelumnya, terkait pelayanan puskesmas yang tidak baik, dia pun melayangkan protes ke petugas jaga tersebut, atas tidak adanya dokter jaga maupun ketersediaan obat yang dibutuhkan anaknya.

“Sudah dua kali. Dulu sakitnya serupa tapi tidak dapat pelayanan. Sekarang pun demikian, anakku masuk jam dua subuh. Petugas jaga di IGD hanya dua orang dan tak ada dokter. Setelah beberapa jam, tidak ada tindakan untuk anak saya yang sudah sangat lemas. Obat tak diberikan, utamanya mengatasi muntah-muntahnya. Saya tanyakan ke perawat, mana dokter, katanya di rumahnya. Saya tanyakan mana obat muntah, perawat bilang tidak ada. Padahal sudah dua kali saya ke sini dan tidak ada obatnya,” kata dia.

Dia pun yang sudah geram melihat tidak adanya pelayanan maksimal memilih mengeluarkan Paksa anaknya dan merujuk ke klinik di Pangkajene. “Daripada tidak dirawat secara maksimal, dan anak saya sudah sangat lemas, lebih baik keluar dari puskesmas. Yang saya sesalkan, kejadian ini telah dua kali saya alami,” ujarnya.

Sekadar diketahui, kejadian pertama yang dialami Syaiful pada Senin, 8 Maret 2021 lalu. Anaknya mengalami sakit yang sama dan tidak mendapatkan perawatan selama sehari. Pihak puskesmas pun sama sekali tidak memberikan hasil diagnosa penyakit anaknya, sehingga memilih untuk mengeluarkan Paksa anaknya.

Kepala Puskesmas Mandalle, Hasriyati membenarkan ada pasien yang masuk di Puskesmas Mandalle pad tanggal tersebut namun tak lama. Pihak keluarga pasien memilih mengeluarkan anaknya dari puskesmas.

“Jadi kronologinya, pasien itu masuk jam 1 malam. Keluhannya muntah sebanyak tiga kali, dan perawat melakukan cek suhu dan hasilnya 34 derajat Celcius. Kemudian ditimbang, hasilnya 12 KG. Setelah itu perawat hendak memasang infus dan si ibu pasien menolak dan memilih mengeluarkan anaknya. Kemudian ibu itu bertanya obat yang akan diberikan jenis apa, dan dijawab adalah vitamin. Si ibu kemudian menanyakan obat muntahnya mana dan dijawab habis,” kata Hasriyati.

Dia yang saat itu tak berada di lokasi, pun membenarkan bahwa stok obat muntah di Puskesmas Mandalle memang kosong. Dirinya pun telah beberapa kali meminta stok.

“Sudah pernah minta. Tapi stok di gudang farmasi belum ada. Saya sudah pesan obat itu tapi belum ada barangnya. Saya juga sudah pesan lagi di tempat lain,” ujarnya lagi.

Anggota DPRD Pangkep, Irwan Nursaid mengatakan, Dinas Kesehatan harus segera merespons hal ini karena sektor kesehatan merupakan layanan dasar yang harus terpenuhi.

“Saya kira dinas atau unit kerja terkait harus segera merespons ini krn terkait pelayanan dasar masyarakat krn menyangkut kesehatan mereka,” tegasnya.

Plt Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pangkep ini berharap langkah-langkah alternatif dari Dinas Kesehatan dalam merespon naiknya permintaan obat ditengah situasi pandemi saat ini.

“Dan juga harapan saya agar dinas atau unit kerja terkait kesehatan ini segera menyempurnakan perencanaan dan pengelolaan ketersediaan obat yang ada di rumah sakit dan puskesmas agar kejadian kelangkaan obat tdk terjadi lagi,” lanjutnya.

Kepala Dinas Kesehatan Pangkep, dr Herlina yang di konfirmasi mengaku persoalan itu belum sampai kepadanya. Terkait obat yang habis, dia mengaku bahwa saat ini dirinya masih menunggu laporan dari puskesmas terkait permintaan obat-obatan yang habis.

“Saya masih baru (sebagai Kadis) dan sementara melihat semua data yang ada. Untuk persoalan di Puskesmas Mandalle bisa langsung konfirmasi ke Kapusnya Karena laporan belum ada sampai ke dinas ndi,” ujar dia singkat melalui telepon selulernya.

Sumber: tajuk.co.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *