KAMU LAGI JATUH CINTA ? YUK KENALI OKSITOKSIN, SANG HORMON CINTA

JAPIKnews JAKARTA

“Oksitosin atau hormon cinta bermanfaat dalam sejumlah kondisi. Biasanya untuk mengatasi depresi, kecemasan, hingga masalah usus. Hormon cinta ini diproduksi dalam otak, tepatnya hipotalamus. Tingkat kadar oksitosin bisanya tinggi pada masa awal hubungan percintaan. Kadarnya dapat terus muncul melalui beberapa cara, misalnya saat berpelukan, berhubungan seksual, atau pada ibu-anak saat persalinan dan menyusui.”

Oksitosin adalah hormon dan neurotransmitter yang terlibat dalam persalinan dan menyusui. Hormon ini juga berkaitan dengan empati, kepercayaan, aktivitas seksual, dan pembangun hubungan. Terkadang oksitosin juga disebut sebagai “hormon cinta”, karena kadar oksitosin meningkat selama berpelukan dan orgasme.

Hormon cinta atau oksitosin ini juga bermanfaat sebagai pengobatan untuk sejumlah kondisi. Contohnya saja pengobatan depresi, kecemasan, dan masalah usus. Perlu diketahui, oksitosin diproduksi di hipotalamus, bagian dari otak. Wanita biasanya memiliki kadar oksitosin yang lebih tinggi dibandingkan pria.

Peran Oksitosin sebagai Hormon Cinta

Sebuah penelitian melaporkan bahwa orang-orang pada tahap pertama dalam ikatan percintaan memiliki tingkat oksitosin yang lebih tinggi, dibandingkan dengan orang lajang tanpa ikatan apapun. Tingkat ini bertahan setidaknya selama 6 bulan.

Aktivitas seksual juga diketahui dapat merangsang pelepasan oksitosin, dan tampaknya berperan penting dalam ereksi dan orgasme. Untuk alasan ini sebenarnya tidak sepenuhnya dipahami, tapi pada wanita, mungkin peningkatan motilitas rahim dapat membantu sperma mencapai tujuannya. Hal tersebut menjadikan sebuah korelasi antara konsentrasi oksitosin dan intensitas orgasme.

Sementara itu, keberadaan oksitosin lebih dari cinta yang baru tumbuh di antara sepasang kekasih. Ada beberapa hal yang bisa meningkatkan kadar oksitosin seseorang. Beberapa di antaranya yaitu:

  • Saat mempercayai orang yang dicintai.
  • Menatap orang yang dicintai.
  • Empati.
  • Kenangan hubungan positif.
  • Kesetiaan.
  • Komunikasi positif.
  • Pemrosesan isyarat ikatan hubungan cinta.

Hal yang tidak kalah penting yaitu peran oksitosin dalam fungsi reproduksi wanita. Mulai dari aktivitas seksual hingga persalinan dan menyusui. Stimulasi puting susu saat bayi menyusui langsung pada payudara ibu memicu pelepasan hormon cinta ini.

Selama persalinan, oksitosin meningkatkan motilitas rahim, menyebabkan kontraksi pada otot-otot rahim atau rahim. Saat serviks dan vagina mulai melebar untuk persalinan, oksitosin dilepaskan. Pelebaran ini meningkat seiring dengan terjadinya kontraksi lebih lanjut.

Di samping ikatan percintaan, oksitosin  juga berkontribusi pada ikatan orangtua-anak. Ibu dengan tingkat oksitosin yang lebih tinggi lebih mungkin untuk menyayangi anak-anaknya, menyentuh, memberi makan, bernyanyi, berbicara, mendandani anak, dan memandikan bayi.

Pada gilirannya, anak-anak menerima dorongan oksitosin dan belajar mencari lebih banyak kontak pada orangtuanya. Efek serupa juga ditemukan meski pada orangtua angkat.

Oksitosin bahkan dianggap mempengaruhi kesetiaan oleh beberapa ahli. Para peneliti percaya bahwa pengaruh oksitosin pada jalur penghargaan menciptakan lingkaran perilaku positif. Dengan begitu seseorang dapat terlibat dalam kontak sosial dan seksual dengan pasangan.

Selain dalam hubungan percintaan antara pasangan atau ikatan orangtua-anak, oksitosin juga memiliki fungsi sosial. Hal ini berdampak pada perilaku ikatan, penciptaan ingatan kelompok, pengakuan sosial, dan fungsi sosial lainnya.

Bagaimana Oksitosin Mempengaruhi Otak?

Oksitosin dimulai dari satu tempat, yaitu otak. Setelah oksitosin diproduksi oleh hipotalamus, bagian otak yang menjaga keseimbanga fungsi internal tubuh, oksitosin disekresikan ke dalam aliran darah oleh kelenjar pituitari. Dari sana, oksitosin diarahkan ke sumsum tulang belakang atau bagian lain dari otak, tergantung pada tujuan akhirnya.

Saat dilepaskan ke otak dalam keadaan yang tepat, oksitosin memiliki kekuatan untuk mengatur respons emosional dan perilaku pro-sosial. Hal ini termasuk kepercayaan, empati, tatapan, ingatan positif, pemrosesan isyarat ikatan, dan komunikasi positif.

Berkat oksitosin, kamu akan mendapatkan perasaan hangat dan tenang setiap kali bersama orang-orang yang disayangi. Dan semakin kamu terlibat dalam perilaku menyenangkan ini, semakin banyak oksitosin yang akan kamu dapatkan.

Nah, itulah peran oksitosin sebagai hormon cinta yang menarik untuk diketahui.

JANGAN LUPA BAHAGIA YA

Yuk ..Tingkatkan Bahagiamu Hari ini ..(Whie*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.