Bersahabat Dengan Covid-19 !!! Sebuah Pandangan dari Tenaga Kesehatan

  • Whatsapp

Japiknews.com – Jakarta – Beberapa media nasional menyajikan topik utama bersahabat dengan Covid-19. Topik yang benar benar menggelitik dan mengusik tenaga kesehatan. Topik yang rasa rasanya memukul telak tenaga kesehatan di tengah keletihan yang mendera mereka.

Terminologi bersahabat dan berdamai dengan Covid-19 ini dimulai pada 7 Mei lalu, dimana Bapak Presiden menyampaikan hal ini pada pidatonya dan sebagai seorang dirigen, maka seluruh nada suara mulai disamakan agar musik tetap harmonis dan tidak ada terdengar suara yang menyimpang.

Bacaan Lainnya

Kita melihat bahwa Pemerintah terlihat gamang dan gugup menghadapi wabah Covid-19 yang terlihat tidak mau habis ini. Puncak dan pelandaian kurva masih belum terlihat. DKI mulai melandai tetapi tetap masih belum terlihat ujung dari wabah ini.

Kalau kita boleh mundur ke belakang, tidak habisnya wabah ini karena kita tidak konsisten dan terkesan ambivalen serta ambigu dalam melaksanakan karantina wilayah. Selalu ada pengecualian dengan banyak pertimbangan. Tentu saja pertimbangan ekonomi yang lebih mengedepan. Padahal kalau kita boleh berandai andai pada saat kasus masih terbatas di DKI maka karantina ketat di DKI kemungkinan besar akan bisa mencegah kasus ini menyebar ke daerah. Tetapi nasi sudah jadi bubur dan kasus nya sudah menyebar kemana mana .

Yang mungkin akan kita lakukan sebetulnya tidak tepat berdamai atau bersahabat. Yang kita terpaksa lakukan adalah hidup berdampingan seperti singa dan rusa di padang sabana Afrika. Singa akan selalu memerlukan rusa sebagai makanannya , dan Rusa harus dalam keadaan siap siaga dan waspada karena sewaktu waktu bakal disantap oleh singa. Tetapi mereka terpaksa harus hidup berdampingan dalam satu padang rumput yang sama. Karena rusa tidak punya pilihan lain.

Yang harus kita siapkan adalah perubahan perilaku agar kita tidak dimangsa oleh virus Covid-19 ini dengan meneruskan perilaku seperti yang selama ini kita lakukan seperti mencuci tangan dengan sabun berulang kali, menjaga jarak, menghindari keramaian, melengkapi APD kita sesuai level pelayanan.

Kita melihat, ada tendensi mungkin bukan hanya relaksasi tetapi juga menghentikan PSBB, karena terlalu lama hal Ini dilakukan tentu tidak elok bagi ekonomi kita. Walaupun PSBB yang dilakukan selama ini dengan tanda petik dan banyak pengecualian sehingga efek dari PSBB sendiri tidak bisa maksimal , tetapi walaupun demikian efek yang tidak maksimal itu tetap berpengaruh besar mengurangi dampak wabah ini.

Kita melihat bahwa dampak relaksasi walaupun belum diumumkan sudah berpengaruh besar bagi masyarakat. Kerumunan orang di luar rumah ramai lagi, jalanan kembali macet, Mall kembali dikunjungi. Hal itu memang tidak lepas dari ritual tahunan umat muslim yang merupakan mayoritas di Indonesia. Akibat dari hal ini , kita menduga seminggu ke depan kasus akan naik kembali.

Sebagai tenaga kesehatan, saya ingin meyakinkan dan mengajak teman teman sekalian, bahwa tidak ada kata damai, tidak ada kata bersahabat dalam kamus kita. Karena kita tahu virus Covid-19 akan membunuh kita jika terkena dan dia akan mencari selalu inangnya yaitu manusia. Kita tidak boleh lengah dan lalai dalam menjaga kesehatan kita.

Kemungkinan wabah ini akan berlangsung lama dan korban akan terus berjatuhan. Kewaspadaan kita harus terus dijaga dan ditingkatkan. Kita tidak bisa dan tidak boleh menyerah. Masyarakat harus tetap kita edukasi, karena semakin banyak masyarakat sakit, semakin besar risiko kita tertular dari mereka.

Sejawat dan sahabat sekalian, jaga diri. Karena jika sejawat dan sahabat meninggal dunia, maka akan ada yang menggantikan sejawat dan sahabat di tempat kerja . Tetapi bagi anak anak kita, kita adalah dunianya dan segalanya bagi mereka dan tak akan tergantikan.

Mari kita bersama sama berdoa dan menengadahkan tangan agar wabah ini segera berlalu dari tanah air kita. Aamiin ya Mujibassailin.

Patrianef Darwis
Dokter Spesialis-Subspesialis
Dosen Fakultas Kedokteran
Founder Komunitas Kesehatan Nasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *